masukkan script iklan disini
Jejakcyber. || Pemalang – Desa Banjaranyar, yang terletak di Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, menyimpan sejarah panjang yang sarat makna. Luas wilayah desa ini sekitar 1,60 km², menjadikannya salah satu desa dengan wilayah terkecil di kecamatan tersebut. Namun, kisah perjalanannya dari masa lalu hingga kini menjadi bagian penting dari identitas masyarakat setempat.
Asal-usul desa ini konon dulunya bernama Desa Banjar, yang berlokasi di kompleks Candi Sigugur, wilayah yang kini masuk Desa Mejagong. Pendiri desa ini adalah Ki Ageng Giring. Nama Banjar dikaitkan dengan kondisi alam: setiap musim penghujan, desa selalu dilanda banjir, dan warga kerap tersambar petir. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, hal ini dianggap sendakala kejadian yang terus-menerus membawa musibah.
Karena kondisi yang tidak menentu, datanglah Mbah Danasari Raden Agung, seorang tokoh keturunan keraton, yang menyarankan memindahkan lokasi desa dari sebelah barat Sungai Banjaran ke sebelah timur sungai tersebut. Setelah pindah, desa dinamai Banjaranyar gabungan kata "Banjaran" dan "Anyar" yang berarti "Baru", sehingga bermakna Desa Banjar yang baru. Mbah Danasari menjadi orang pertama yang membuka atau "membabad" tanah Banjaranyar, dan beliau kini dimakamkan di Pemakaman Ageng Desa Banjaranyar.
Mbah Danasari Raden Agung meninggalkan sejumlah peninggalan berupa benda pusaka dan barang antik yang hingga kini disimpan dan dijaga oleh kuncen di makam beliau, yaitu Mbah Warniti. Keturunan beliau, seperti Mbah Candra Wangsa, juga disebut memiliki peran besar dalam melestarikan peradaban dan kearifan lokal di Banjaranyar. Ketujuh anak beliau dikatakan menjadi cikal bakal komunitas yang memiliki ciri khas masing-masing, mulai dari kesenian pewayangan, pertanian, hingga kehidupan keagamaan.
Selain itu, di wilayah yang dulunya menjadi lokasi Desa Banjar lama, masih terdapat sisa-sisa Kompleks Candi Sigugur, yang menjadi bukti adanya peradaban yang lebih tua di wilayah tersebut. Warisan leluhur ini terus dijaga melalui tradisi lisan dan kegiatan keagamaan yang menjadi perekat persatuan warga.
Berdasarkan data kependudukan terbaru, Desa Banjaranyar dihuni oleh sekitar 4.824 jiwa, yang tersebar di beberapa dusun. Mata pencaharian warga didominasi oleh sektor pertanian dan wiraswasta, diikuti perdagangan, serta tenaga pendidik dan tenaga medis . Tingkat pendidikan masyarakat terus meningkat, dengan jumlah tamatan SLTA, Diploma, hingga Sarjana yang terus bertambah setiap tahunnya . Hal ini menunjukkan adanya perubahan sosial yang positif dari generasi ke generasi.
Saat ini, Pemerintah Desa Banjaranyar terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan publik dan pembangunan infrastruktur. Desa telah menerapkan sistem Smart Village (Desa Cerdas), dengan dukungan berbagai aplikasi digital untuk tata kelola keuangan, administrasi, dan informasi publik yang transparan. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat pembangunan, meningkatkan kesejahteraan warga, serta melestarikan nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur.
Pembangunan infrastruktur jalan, fasilitas pendidikan, dan sarana ibadah terus ditingkatkan. Kegiatan keagamaan, seni budaya, dan gotong royong juga tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Banjaranyar.
Sejarah Desa Banjaranyar mengajarkan bahwa perubahan dan keberanian memulai hal baru seperti yang dilakukan Mbah Danasari Raden Agung dapat membawa menuju masa depan yang lebih baik. Dari masa yang penuh tantangan, kini Banjaranyar tumbuh menjadi desa yang dinamis, harmonis, dan terus berupaya memajukan kesejahteraan warganya. Semoga semangat leluhur senantiasa menginspirasi generasi penerus untuk menjaga persatuan, melestarikan budaya, dan membangun desa yang semakin maju dan bermartabat.
Reporter: Kodir
Editor: Amad Ma'muri




Tidak ada komentar:
Posting Komentar