• Jelajahi

    Copyright © JEJAK CYBER
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    🔴 BREAKING NEWS
    Memuat berita...

    Milad ke-8 Rumah Ceria Repok, Teguhkan Komitmen “Memanusiakan Manusia” dan Serukan Stop Pasung ODGJ

    Minggu, Agustus 30, 2026 WIB
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    Jejak Cyber || Cianjur – Semangat kemanusiaan, kepedulian sosial, dan nilai-nilai keagamaan berpadu dalam peringatan Milad ke-8 Yayasan Rumah Ceria Repok, yang selama ini konsisten memberikan pendampingan dan penanganan bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

    Bertepatan dengan momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, Yayasan Rumah Ceria Repok menggelar kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW, santunan anak yatim, serta reuni akbar yang berlangsung di Kampung Cibadak RT 02/RW 08, Desa Sukamahi, Kabupaten Cianjur, Minggu (30/8/2026).


    Kegiatan tersebut berlangsung penuh kehangatan dan kekeluargaan. Sejumlah unsur masyarakat turut hadir, di antaranya Babinsa dan Bhabinkamtibmas, Kepala Desa Cikancana Nanang yang selama ini dikenal sebagai salah satu donatur sekaligus bagian dari perjalanan sejarah berdirinya yayasan, para tokoh masyarakat, tokoh agama, keluarga pasien, para warga binaan atau pasien Rumah Ceria Repok, serta masyarakat sekitar.
    Turut hadir pula salah satu donatur dari Alam Sunda. 

    Sementara tausiah dalam peringatan Maulid Nabi disampaikan oleh Dr.KH. Farid, pimpinan Pesantren Al-Hidayah Cianjur.

    Bagi Yayasan Rumah Ceria Repok, peringatan milad bukan sekadar seremoni tahunan. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa ODGJ tetap merupakan manusia yang memiliki hak untuk dihargai, dicintai, dirawat, dan diberikan kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan secara produktif.

    Prinsip tersebut sejalan dengan moto yang selama ini menjadi pijakan Rumah Ceria Repok, yakni “Memanusiakan Manusia.”

    Pendekatan yang dikedepankan bukan semata-mata melihat seseorang dari kondisi gangguan jiwanya, tetapi melihat manusia secara utuh dengan hati, empati, kesabaran, dan pendampingan yang berkelanjutan.

    Rumah Ceria Repok juga secara tegas menyuarakan gerakan “Stop Pasung”. Menurut yayasan, pemasungan bukanlah solusi dalam menangani persoalan kesehatan jiwa.

    Sebaliknya, mereka yang mengalami gangguan jiwa membutuhkan penanganan yang tepat, dukungan keluarga, lingkungan yang menerima, serta pengobatan medis secara rutin.
    Kepala Desa Cikancana: Rumah Ceria Repok Lahir dari Kepedulian Bersama.

    Kepala Desa Cikancana, Nanang, yang merupakan saksi perjalanan awal berdirinya Rumah Ceria Repok sekaligus salah satu donatur tetap, menuturkan bahwa kepeduliannya terhadap yayasan tersebut bermula ketika melihat kondisi Rumah Ceria Repok yang pada saat itu masih menempati tempat sewaan dengan berbagai keterbatasan.

    Menurut Nanang, meskipun Rumah Ceria Repok secara administratif tidak berada di wilayah Desa Cikancana, persoalan kemanusiaan tidak semestinya dibatasi oleh batas administratif sebuah desa.

    Ia menegaskan bahwa pemerintah desa memiliki tanggung jawab moral untuk membantu siapa pun yang membutuhkan, baik warga Desa Cikancana maupun masyarakat dari wilayah lain.

    “Kami sebagai kepala desa tidak pandang bulu. Mau Desa Cikancana, Sukaresmi, atau desa mana pun yang memang membutuhkan bantuan, selama itu untuk kemanusiaan, kami akan berusaha membantu,” ujarnya.

    Nanang mengenang, dirinya bersama perangkat desa, BPD, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta unsur masyarakat kemudian melakukan berbagai komunikasi dan musyawarah untuk mendorong hadirnya tempat yang lebih layak bagi para warga binaan Rumah Ceria Repok.

    Proses tersebut, kata dia, melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah desa, kecamatan, kepolisian, TNI, hingga masyarakat dari sejumlah wilayah.

    “Waktu pertama melihat kondisi yayasan, saya sampai mengeluarkan air mata. Saat itu Rumah Ceria Repok masih menyewa tempat. Dari situlah kemudian kami berpikir bagaimana supaya ada tempat yang lebih layak,” tuturnya.

    Dari kepedulian tersebut, berbagai pihak kemudian bergotong royong hingga Rumah Ceria Repok dapat terus berkembang dan memberikan pelayanan kepada para warga binaannya.

    Namun, di tengah perkembangan tersebut masih terdapat sejumlah kebutuhan yang menjadi pekerjaan rumah bersama.

    Nanang berharap perhatian dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat maupun Pemerintah Kabupaten Cianjur dapat semakin besar, terutama untuk mendukung keberlangsungan operasional yayasan.

    Salah satu kebutuhan mendesak yang disampaikan adalah armada ambulans, yang dinilai sangat diperlukan untuk menunjang mobilitas dan penanganan warga binaan.

    Selain itu, yayasan juga membutuhkan dukungan lahan untuk pembangunan fasilitas yang lebih permanen. Nanang menyebut kebutuhan lahan tersebut diperkirakan memerlukan anggaran sekitar Rp100 juta, tergantung lokasi dan kondisi lahan yang tersedia.

    “Sebagai pelopor pembangunan ini, kami tentu berharap ada perhatian dari pemerintah. Mudah-mudahan apa yang menjadi kebutuhan Rumah Ceria Repok dapat terdengar dan mendapatkan respons dari pemerintah, baik Pemerintah Provinsi Jawa Barat maupun Pemerintah Kabupaten Cianjur,” katanya.

    Ia berharap publikasi melalui media online dapat menjadi jembatan informasi sehingga semakin banyak pihak mengetahui kondisi dan kebutuhan Rumah Ceria Repok.

    Ketua Yayasan: Bukan Sekadar Maulid, Tetapi Ruang untuk Menunjukkan Potensi Warga Binaan

    Sementara itu, Ketua Yayasan Rumah Ceria Repok, Rosini, S.Tr., Kep., menjelaskan bahwa kegiatan Maulid Nabi sekaligus reuni akbar tersebut memiliki tujuan utama untuk mempererat silaturahmi antara keluarga warga binaan, pengurus yayasan, masyarakat, serta para pihak yang selama ini memberikan dukungan.

    Menurut Rosini, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk melihat secara langsung bahwa warga binaan Rumah Ceria Repok bukanlah individu yang harus dijauhkan atau dikucilkan.

    Sebaliknya, dengan pendampingan yang tepat, mereka dapat menunjukkan kemampuan dan potensi yang dimiliki.

    “Tujuan pertama adalah silaturahmi antara keluarga dengan warga binaan, keluarga dengan pengurus yayasan, dan masyarakat. Kami ingin masyarakat mengetahui bahwa warga binaan di sini bisa berinteraksi, bisa tampil, bisa berkarya, dan bisa diberdayakan,” ujar Rosini.

    Dalam rangkaian acara tersebut, sejumlah warga binaan turut menampilkan berbagai kemampuan, mulai dari mengaji hingga pidato. Penampilan tersebut menjadi gambaran bahwa di balik kondisi yang mereka alami, terdapat potensi yang masih dapat dikembangkan.

    “Kami tampilkan warga binaan di depan masyarakat. Ada yang mengaji, ada yang mengikuti lomba pidato, dan ada juga yang menunjukkan kemampuan lainnya. Jadi masyarakat bisa melihat bahwa mereka tetap memiliki potensi,” katanya.

    Menurut Rosini, momentum Maulid Nabi Muhammad SAW juga menjadi pengingat pentingnya meneladani nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama.

    Mimpi Memiliki Lahan dan Mushola Sendiri

    Di usia yang memasuki tahun kedelapan, Rumah Ceria Repok masih menghadapi tantangan dalam pengembangan sarana dan prasarana.

    Rosini mengungkapkan, salah satu kebutuhan utama yayasan saat ini adalah perluasan lahan dan pembangunan fasilitas yang lebih memadai, termasuk keinginan memiliki mushola khusus bagi para warga binaan.

    Ia menyebut terdapat lahan di sekitar yayasan dengan luas kurang lebih 2.200 meter persegi yang diharapkan dapat menjadi bagian dari pengembangan fasilitas Rumah Ceria Repok.
    Namun, keterbatasan biaya masih menjadi kendala.

    “Harapan kami tentu bisa memiliki lahan sendiri dan membangun fasilitas yang lebih baik. Kami juga ingin memiliki mushola khusus untuk warga binaan. Mudah-mudahan ada para donatur dan dermawan yang peduli serta berempati untuk membantu mewujudkan kebutuhan tersebut,” ungkapnya.

    Rosini juga menyampaikan rasa syukur atas dukungan berbagai pihak sehingga pelaksanaan kegiatan Milad ke-8 dan Maulid Nabi Muhammad SAW dapat berjalan dengan sukses.

    Ia menyebut sejumlah donatur secara konsisten memberikan dukungan, termasuk pihak dari Alam Sunda yang turut berkontribusi dalam kegiatan tersebut.

    Dukungan para dermawan, menurutnya, menjadi energi penting bagi yayasan untuk terus menjalankan aktivitas pelayanan dan pendampingan.

    ODGJ Bisa Pulih dan Kembali Produktif

    Memasuki usia ke-8, Rumah Ceria Repok juga kembali menyampaikan pesan kepada masyarakat luas agar tidak memberikan stigma negatif terhadap orang dengan gangguan jiwa.

    Rosini mengajak masyarakat maupun keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa agar tidak menjauhi, mengucilkan, apalagi memasung.

    Menurutnya, ODGJ tetap merupakan manusia yang memiliki hak untuk memperoleh perawatan dan kehidupan yang layak.

    “Untuk seluruh masyarakat Cianjur, Jawa Barat, dan Indonesia, jika memiliki keluarga atau siapa pun yang mengalami gangguan jiwa, jangan dijauhi. Mereka adalah manusia biasa. Mereka bisa pulih dan bisa sehat dengan pengobatan yang rutin serta penanganan medis,” tegasnya.

    Ia mengatakan, pengalaman selama mendampingi warga binaan menunjukkan bahwa sebagian dari mereka dapat kembali beraktivitas, bekerja, menghasilkan sesuatu, dan memberikan manfaat bagi lingkungan setelah memperoleh penanganan serta pendampingan yang tepat.

    “Jangan kecilkan mereka. Mereka adalah manusia-manusia yang harus kita manusia-kan,” ujarnya.

    Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa kesehatan jiwa merupakan persoalan kemanusiaan yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Keluarga, masyarakat, pemerintah, tenaga kesehatan, serta lembaga sosial memiliki peran masing-masing dalam menciptakan lingkungan yang aman dan suportif.

    “Stop pasung.”

    Bagi Rumah Ceria Repok, dua kata tersebut bukan sekadar slogan, melainkan panggilan kemanusiaan agar tidak ada lagi manusia yang kehilangan kebebasan dan martabatnya hanya karena mengalami gangguan jiwa.

    Delapan tahun perjalanan Rumah Ceria Repok menjadi bukti bahwa kepedulian yang dimulai dari hati dapat tumbuh menjadi gerakan sosial. Di tengah keterbatasan fasilitas dan kebutuhan yang masih panjang, yayasan tersebut terus berupaya mempertahankan satu keyakinan: setiap manusia, apa pun kondisinya, tetap berhak diperlakukan dengan hormat, kasih sayang, dan martabat.

    𝙿𝙴𝚆𝙰𝚁𝚃𝙰: 𝙼, 𝙼𝚊𝚑𝚍𝚒
    𝙴𝙳𝙸𝚃𝙾𝚁: 𝙰𝚖𝚊𝚍 𝙼𝚊'𝚖𝚞𝚛𝚒
    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Terkini

    Diver

    🔴 MITRA JEJAK CYBER - MEDIA PROMOSI PASANG IKLAN DISINI
    Display BannerTop Header
    300x250
    Rp 150.000/bulan
    Artikel Sponsor1 Artikel SEO
    + Share Sosmed
    Rp 200.000
    Video PromosiYouTube & Reels
    IG + TikTok
    Rp 250.000
    Paket KomplitBanner + Artikel
    + Video
    Rp 500.000
    📲 HUBUNGI WHATSAPP SEKARANG