• Jelajahi

    Copyright © JEJAK CYBER
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    🔴 BREAKING NEWS
    Memuat berita...

    Retak dalam Rumah: Ketika Orang Tua Terjebak Pilih Kasih

    Senin, Agustus 24, 2026 WIB
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Jejakcyber || Brebes - Pernahkah Anda tanpa sadar memuji si sulung setinggi langit di depan adik-adiknya? Atau sebaliknya, selalu memaklumi kesalahan si bungsu hanya karena dia yang paling kecil?

    Dalam dunia psikologi, fenomena ini dikenal sebagai Parental Differential Treatment (PDT), atau pola asuh pilih kasih sebuah kondisi ketika orang tua secara konsisten membedakan kasih sayang, perhatian, atau ketegasan disiplin di antara anak-anak mereka. Ironisnya, ketidakadilan afeksi ini sering kali terjadi tanpa disadari, menjebak orang tua dalam dinamika merawat anak yang keliru.
     
    Jika membedah fenomena ini dengan kacamata teori Behaviorisme dari Ivan Pavlov dan John B. Watson, kita tahu bahwa setiap tindakan selalu lahir qkarena adanya pemicu. Formula Stimulus–Respons ini menegaskan bahwa sikap pilih kasih tidak pernah berdiri sendiri. Ada alasan mendasar mengapa orang tua terkadang secara instingtif membedakan anak-anaknya. Setidaknya, ada tiga pemicu utama mengapa jurang pemisah ini bisa tercipta di dalam rumah.
     
     1. Cerminan Diri dan Beban Psikologis Orang Tua
     
    Akar pertama justru berasal dari dalam diri orang tua itu sendiri. Tekanan hidup, stres, masalah finansial, hingga pengalaman masa lalu yang belum terselesaikan sering kali menjadi pemicunya. Secara psikologis, manusia cenderung lebih mudah dekat dengan sosok yang memiliki kemiripan sifat, wajah, atau prestasi yang mencerminkan diri mereka sendiri. Anak yang "mirip" ini akhirnya kerap mendapat tempat spesial di hati orang tua.
     
    2. Jebakan Stereotip Urutan Kelahiran
     
    Masyarakat kita masih menggenggam erat stereotip urutan lahir, yang tanpa sadar berubah menjadi label kasih sayang. Anak bungsu sering kali dinobatkan sebagai "anak emas" yang wajib dituruti, dimanja, dan diharapkan menjadi pelindung orang tua di masa tua karena dianggap paling rentan. Sebaliknya, anak sulung memikul beban sebagai investasi dan kebanggaan. Psikolog Alfred Adler pernah menulis bahwa anak sulung menerima perhatian eksklusif di awal hidupnya karena melibatkan banyak pengalaman pertama bersama orang tua. Dampaknya? Muncul ekspektasi tinggi yang menuntut mereka untuk selalu kuat dan sukses. Di tengah pusaran ini, anak tengah kerap menjadi korban yang terabaikan terjepit di antara kehebatan si sulung dan kemanjaan si bungsu.
     
    3. Karakteristik dan Kebutuhan Khusus Anak
     
    Perbedaan kepribadian, jenis kelamin, hingga kondisi fisik anak juga memengaruhi respons orang tua. Anak yang sering sakit atau memiliki keterbatasan fisik dan mental tentu akan menyedot lebih banyak waktu, energi, dan biaya. Sayangnya, perhatian ekstra yang logis ini sering kali membuat anak lain yang terlihat "baik-baik saja" merasa tersisih dan diabaikan.
     
    Sebagai orang tua yang anak-anaknya kini telah beranjak dewasa, saya harus jujur mengakui bahwa menghindari jebakan pilih kasih ini luar biasa sulit. Memperlakukannya secara sama rata baik laki-laki maupun perempuan, sulung hingga bungsu adalah perjuangan tanpa akhir. Bahkan, seketat apa pun kita menjaga hati, protes "Ayah atau Ibu berat sebelah!" sesekali tetap mampir di telinga.
     
    Dalam institusi keluarga, pilih kasih adalah tanda kegagalan dalam menjaga keseimbangan hubungan. Ketika satu hubungan terlalu intim dengan orang tua, hubungan lain pasti renggang. Akibatnya, fondasi rumah sebagai tempat yang aman dan nyaman runtuh. Rumah tidak lagi menjadi tempat bernaung, melainkan arena kompetisi yang tidak sehat, di mana kasih sayang diperlakukan seperti "piala" yang harus diperebutkan.
     
    Dampaknya bagi mental anak sangat merusak. Anak yang diabaikan akan tumbuh dengan kelekatan emosional yang tidak aman dan krisis kepercayaan diri saat dewasa. Mereka rentan menjadi pribadi yang pemarah, rendah diri, cemas, hingga depresi. Sementara bagi anak yang terlalu diunggulkan, mereka berisiko tumbuh menjadi sosok yang egois, sombong, emosional, dan sulit mandiri karena terbiasa merasa selalu benar. Pada akhirnya, harmoni keluarga rusak dan menyisakan persaingan antarsaudara yang tidak sehat.
     
    Memutus rantai pilih kasih memang butuh kebesaran hati dan evaluasi diri yang tiada henti. Semoga setiap orang tua senantiasa dimampukan untuk membagi kasih sayangnya secara adil, sehingga mampu mengantarkan anak-anak menuju gerbang kesuksesan yang berkah, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Aamiin.

    Oleh: Lukman Nur Hakim, S,Psi..M,pd Randusanga

    Redaksi
    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Terkini

    Diver

    🔴 MITRA JEJAK CYBER - MEDIA PROMOSI PASANG IKLAN DISINI
    Display BannerTop Header
    300x250
    Rp 150.000/bulan
    Artikel Sponsor1 Artikel SEO
    + Share Sosmed
    Rp 200.000
    Video PromosiYouTube & Reels
    IG + TikTok
    Rp 250.000
    Paket KomplitBanner + Artikel
    + Video
    Rp 500.000
    📲 HUBUNGI WHATSAPP SEKARANG