masukkan script iklan disini
JEJAK CYBER || BANDUNG Sabtu (29/8/2026) - Wilayah yang kini dikenal sebagai Provinsi Jawa Barat menyimpan sejarah peradaban yang berakar jauh ke masa lampau. Dikenal sebagai Tatar Sunda atau Pasundan, tanah ini telah menjadi tempat berkembangnya peradaban sejak ribuan tahun silam. Jejak tertua tercatat pada Kerajaan Tarumanagara (abad ke-4 hingga ke-7 Masehi), kerajaan Hindu tertua di Nusantara yang meninggalkan puluhan prasasti di wilayah Bogor, Bekasi, dan Banten. Peradaban ini kemudian diteruskan oleh Kerajaan Sunda dengan pusat pemerintahan di Pakuan Pajajaran (kini Bogor), yang mencapai puncak kejayaannya di masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.
Pada masa kolonial, nama administratif mulai berubah. Pemerintah Hindia Belanda melalui Staatsblad No. 378 tanggal 14 Agustus 1925 membentuk Provincie West-Java yang mulai beroperasi pada 1 Januari 1926, mencakup lima keresidenan: Banten, Batavia (Jakarta), Bogor, Priangan, dan Cirebon. Meskipun secara resmi bernama "Jawa Barat", masyarakat tetap memelihara identitas budaya Pasundan sebagai nama yang melekat pada jiwa dan kedaerahan masyarakat Sunda.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, sejarah memasuki babak baru. Pada 19 Agustus 1945, sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menetapkan Jawa Barat sebagai salah satu dari delapan provinsi pertama Republik Indonesia, dengan R. Sutarjo Kartohadikusumo sebagai Gubernur Jawa Barat yang pertama . Namun perjalanan belum selesai. Belanda kembali dengan strategi federalisme, mendirikan Negara Pasundan yang diproklamasikan pada 4 Mei 1947 oleh Soeria Kartalegawa, dan kemudian resmi menjadi negara bagian dalam Republik Indonesia Serikat (RIS) pada 24 April 1948 dengan R.A.A. Wiranatakusumah V sebagai Wali Negara Pasundan .
Kehidupan Negara Pasundan tidak berjalan mulus. Tekanan politik, peristiwa pemberontakan APRA pimpinan Raymond Westerling yang memanfaatkan nama Pasundan, serta desakan rakyat untuk kembali ke pangkuan Republik Indonesia, mempercepat berakhirnya negara ini. Pada 30 Januari 1950, Wiranatakusumah mengundurkan diri, dan akhirnya pada 11 Maret 1950, Negara Pasundan resmi dibubarkan melalui Keputusan Presiden RIS No. 13 Tahun 1950. Wilayahnya kembali menjadi Provinsi Jawa Barat dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang kemudian dikukuhkan melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1950 tanggal 4 Juli 1950 .
Pada tahun 2000, wilayah Jawa Barat mengalami perubahan besar dengan pemisahan Provinsi Banten dan penetapan DKI Jakarta sebagai Daerah Khusus Ibu Kota. Meskipun secara administratif wilayahnya menyempit dan namanya Jawa Barat, semangat dan identitas Pasundan tetap hidup di hati masyarakat. Wacana untuk mengembalikan nama Pasundan pun pernah mengemuka, menunjukkan bahwa akar sejarah dan budaya tidak mudah terhapus oleh sekadar perubahan nama administratif. Tanggal 19 Agustus pun akhirnya ditetapkan sebagai Hari Jadi Provinsi Jawa Barat melalui Peraturan Daerah Nomor 26 Tahun 2010, mengenang momen ketika Jawa Barat resmi lahir sebagai bagian dari Republik Indonesia.
Data Demografi Jawa Barat
Luas Wilayah: ±37.044,86 km²
- Jumlah Penduduk: ±52,21 juta jiwa (akhir 2025), menjadikannya provinsi terpadat di Indonesia
- Kepadatan Penduduk: ±1.409 jiwa/km²
- Ibu Kota: Bandung
- Pembagian Wilayah Administratif: 18 Kabupaten, 9 Kota, 627 Kecamatan, 5.957 Desa/Kelurahan
- Komposisi Etnis:
- Suku Sunda: ±71,87% (mayoritas)
- Suku Jawa: ±13,29% (terutama wilayah perbatasan Jawa Tengah)
- Suku Betawi: ±6,20% (wilayah perbatasan DKI Jakarta)
- Suku Cirebon: ±4,22% (wilayah Cirebon dan sekitarnya)
- Suku Batak, Minangkabau, Tionghoa, dan lainnya: ±4,33%
- Tingkat Urbanisasi: ±65,69% wilayah Bodebek (Bogor-Depok-Bekasi) dan Bandung Raya menjadi pusat konsentrasi perkotaan terbesar
- Batas Wilayah: Utara DKI Jakarta dan Laut Jawa; Timur Jawa Tengah; Selatan Samudra Hindia; Barat Banten dan DKI Jakarta
Nama Tokoh-Tokoh Sejarah Penting
1. Purnawarman Raja terbesar Kerajaan Tarumanagara (abad ke-5 M). Dikenal atas pembangunan saluran air Sungai Candrabaga dan Gomati, serta meninggalkan 7 prasasti yang menjadi bukti tertulis tertua di Tatar Sunda .
2. Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) Raja ke-9 Kerajaan Sunda, memerintah sekitar tahun 1482–1521 M. Masa pemerintahannya dianggap masa keemasan Pakuan Pajajaran; dikenal sebagai raja yang bijaksana, kuat, dan memperkokoh persatuan .
3. R. Sutarjo Kartohadikusumo Gubernur Jawa Barat pertama, diangkat melalui sidang PPKKI 19 Agustus 1945 .
4. R.A.A. Wiranatakusumah V Bupati Bandung sekaligus Wali Negara Pasundan (1948–1950). Tokoh priyayi nasionalis yang akhirnya memilih membubarkan Negara Pasundan demi keutuhan NKRI .
5. Soeria Kartalegawa Mantan Bupati Garut yang memproklamasikan Negara Pasundan versi pertama pada
4 Mei 1947 .
6. Dewi Sartika Pahlawan Nasional, pelopor pendidikan perempuan di Jawa Barat, mendirikan Sekolah Isteri pada 1904 di Bandung.
7. Tiga Serangkai (Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara) Mendirikan Indische Partij di Bandung, 25 Desember 1912, partai politik pertama di Hindia Belanda .
Peninggalan Sejarah yang Berharga
A. Masa Kerajaan Tarumanagara (Abad 4–7 M)
- 7 Prasasti Tarumanagara:
- Prasasti Tugu (Cilincing, Jakarta Utara) terpanjang, menceritakan penggalian Sungai Candrabaga dan Gomati atas perintah Raja Purnawarman.
- Prasasti Ciaruteun (Bogor) memuat jejak kaki Purnawarman yang disamakan dengan jejak kaki Dewa Wisnu.
- Prasasti Kebon Kopi I (Bogor) memuat jejak kaki gajah kerajaan.
- Prasasti Muara Cianten (Bogor).
- Prasasti Jambu (Bogor).
- Prasasti Pasir Awi (Bogor).
- Prasasti Lebak (Banten).
- Situs Batujaya (Karawang) kompleks candi dan pemukiman luas, bukti keberadaan peradaban Tarumanagara yang maju secara agraris dan perdagangan .
- Situs Bojongmenje (Bandung) candi tua dari abad ke-7–8 M, bukti keberadaan budaya Tarumanagara di wilayah pedalaman.
B. Masa Kerajaan Sunda–Galuh (Abad 7–16 M)
- Prasasti Sanghyang Tapak (Cianjur) bertarikh 952 M, bukti kekuasaan Raja Sri Jayabhupati .
- Prasasti Batu Tulis (Bogor) peninggalan masa Prabu Siliwangi.
- Prasasti Kawali (Ciamis) memuat silsilah raja-raja Galuh .
- Prasasti Perjanjian Sunda–Portugis bukti hubungan diplomatik dagang Pakuan Pajajaran dengan bangsa Eropa (1522), dikenal juga sebagai Perjanjian Luso-Sunda.
- Situs Karangkamulyan (Ciamis) pusat pemerintahan Kerajaan Galuh.
- Naskah Kuno: Carita Parahyangan, Babad Pakuan Pajajaran, Sanghyang Siksa Kandang Karesian sumber utama sejarah kebudayaan Sunda .
C. Masa Kolonial dan Pergerakan Nasional
- Gedung Merdeka (Bandung) tempat Konferensi Asia Afrika 1955.
- Jalan Braga dan kawasan Kota Lama Bandung arsitektur kolonial Belanda.
- Gedung De Indische Partij cikal bakal kesadaran nasional .
Dari masa Tarumanagara, Pakuan Pajajaran, West-Java, Negara Pasundan, hingga Jawa Barat hari ini perjalanan panjang ini menjadi bukti bahwa di balik nama administratif, terdapat akar peradaban yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Sejarah Pasundan-Jawa Barat bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi identitas yang menopang masa depan.
πΏπ΄π½ππ»πΈπ: π°πΌπ°π³ πΌπ°'πΌπππΈ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar